Home arrow News
Selamat Datang! di situs resmi Yayasan Pijar Cendikiawan, sebuah yayasan yang konsen di bidang Energi Terbarukan (Renewable Energy)
 
News
Sepeda, Sebuah Kendaraan Alternatif Ramah Lingkungan Print E-mail
Ditulis oleh: Nanang Okta   
Thursday, 03 July 2008

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menekan terjadinya percepatan Global Warming. Mulai dari penanaman pohon sebagai penyerap efek rumah kaca, penggunaan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan lain sebagainya. Sepeda merupakan salah satu jenis kendaraan yang ramah lingkungan dan non emisi serta menyehatkan badan.

Di dunia, tercatat ada 11 kota besar yang menggunakan sepeda sebagai alternatif kendaraan untuk mengatasi kemacetan, mengurangi polusi udara kota serta sebagai alternatif olahraga yang efektif. Pemerintah kota pun menyediakan berbagai sarana penunjangnya, mulai dari track khusus, trafick light, serta station parkir khusus sepeda. Berikut uraian singkat beberapa kota besar tersebut.

Pertama

Belanda Amsterdam dengan 750 ribu penduduk, menjadi salah satu kota yang mencintai sepeda. 40 persen lalu lintas disana didominasi sepeda, membuat penduduk lebih menyukai mengunakan sepeda sebagai gaya hidup.

Bukan untuk olahraga saja, penduduk kota Amsterdam memilih sepeda untuk kegiatan sehari hari. Maklum dengan sepeda akan lebih cepat, dengan fasilitas jalan yang memadai. Di terminal station kereja bahkan mampu menampung 10 ribu sepeda.

 

tempat parkir
Sebuah Stasiun Parkir di Amsterdam

Kedua
Portland Oregon dengan 533 ribu penduduk. Sejak 1990 an, telah dibangun jalur sepeda sepanjang 60 sampai 260 mil. Kebanyakan penduduk disana mengunakan sepeda ke rumah tetangga yang meningkat sampai 9 persen

Ketiga 
Denmark Copenhagen dengan 1. 8juta penduduk. Kota nomor 6 untuk kualitas untuk penduduk ternyata 32 persen pekerja mengunakan sepeda, dan 50 persen pengendara mengatakan mereka mengunakan sepeda lebih cepat dan mudah untuk bekerja. Jalur sepeda dipisahkan dari jalur umum, bahkan memiliki trafik ligh sendiri. Untuk berpergian ke antar tetangga sudah sangat jarang orang yang memakai kendaraan.

Keempat
Bulder , Colorado dengan 100 ribu penduduk. 75 persen murid mengunakan sepeda. Bahkan memiliki jalur khusus underpass untuk sepeda. Ditambah online map untuk jalur sepeda dikota tersebut.

Kelima
Davis, California US dengan 65 ribu penduduk. Kota kecil ini ternyata memiliki jalur 100 ribu khusus untuk sepeda. 17 persen penduduk melalukan kegiatan dengan sepeda. Pemerintah kota memberikan dana 1.7 juta dollar khusus membuat terowongan bagi sepeda.

Keenam
Sandnes Norwegia, 56 ribu penduduk. Pemerintah setempat melakukan proyek selama 4 tahun yang dimulai sejak 1990 an. Tujuannya agar mengurangi trafik kendaraan bermotor.

Ketujuh.
Trondheim, Norwegia 160 ribu penduduk. Sebagai kota kedua di Norwegia, 18 persen penduduk mengunakan sepeda, baik untuk bekerja atau sekolah. Diperkirakan jalur trafik sepeda akan meningkat, sekitar 8 pesen orang dikota tersebut mengunakan sepeda sampai tahun 2015.

Kedelapan
Sanfransico, California US 744 ribu penduduk. Walaupun masuk sebagai kota terpadat di Amerika, score pengendara sepeda menjadi kunci keberhasilan para pengendara sepeda disana. 65 mil tersedia jalur khusus untuk sepeda. Pemerintah setempat memprioritaskan penguna sepeda, diikuti pemakaian MRT.

Kesembilan
Berlin Jerman 3.4 juta penduduk. Berlin adalah kota besar, hampir separuh penduduk memiliki kendaraan pribadi. Sekarang lebih banyak mengunakan sepeda, dengan perkiraan trafik dari sepeda mencapai 15 persen sampai 2010. Berlin memiliki 80 km jalur khusus sepeda, dan 50 km untuk jalur pejalan kaki. Sekitar 400 ribu penduduk mengunakan sepeda, hal ini senilai 12 persen dari total trafik lalulintas di berlin. Maklum, dikereta saja sudah ada tempat khusus bagi mereka yang membawa sepeda.

Kesepuluh
Spanyol Bercelona 1.6 juta penduduk. Kota besar ini memiliki 100 station untuk tempat sepeda. Penduduk disana tinggal pergi ke stasiun kereta dengan sepeda lalu melanjutkan dengan kereta. Tempat parkir juga tersedia dibanyak tempat. Saat ini tempat khusus sepeda mencapai 3250 ribu buah. Keamanan, tidak perlu takut karena parkir sepeda diberikan dijalur bawah tanah.

Terakhir
Basel Switzerland, dengan 200 ribu penduduk. Kota ini paling lengkap menyediakan fasilitas untuk pengendara sepeda. Baik rambu lalulintas, peta dan lainnya sudah tersedia. Bahkan penduduk disana dapat menyewa sepeda dari parkir dibawah tanah oleh sebuah perusahaan setempat.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Dengan total jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia, sangat beresiko sekali terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Jika total penduduk Indonesia 216 juta jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49% (http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=583), jika 50 persen dari jumlah tersebut menggunakan kendaraan bermotor untuk berpergian berapa total emisi gas buang per tahun yang dikeluarkan? Jika pemerintah mampu menguranginya hingga 20 persen saja dan beralih untuk penggunaan kendaraan alternatif yang ramah lingkungan (misal, sepeda) berapa rupiah sudah pemerintah kita berhemat penggunaan APBN, berhemat BBM, mengurangi emisi gas buang serta mengurangi kemacetan lalu lintas.

Mari, kita pikirkan bersama bagaimana menindaklanjuti gejolak kenaikan BBM, peningkatan pemanasan global dan kita ubah pola hidup serta budaya kita. Ingat, cadangan BBM di dunia semakin menipis; temperatur dunia semakin meningkat; permukaan laut sudah semakin bertambah; hutan semakin banyak yang gundul; beraneka macam penyakit yang disebabkan oleh radiasi, mutasi virus dsb; cadangan air bersih dunia semakin berkurang dll. Sebuah pertanda kerusakan alam oleh manusia.

Bagaimana dengan kita, sudahkah kita mengubah pola hidup kita yang ramah terhadap lingkungan dan alam?

Sumber:

http://www.ketok.com/index.php?news_id=1879&start=0&category_id=21&parent_id=0&arcyear=&arcmonth=

http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=583

 
Mini Wind Turbine Print E-mail
Ditulis oleh: Nanang Okta   
Thursday, 26 June 2008

Pengembangan energi terbarukan tidak hanya terpaku pada kapasitas yang dihasilkan (skala besar), melainkan juga dapat dikembangkan dalam skala terkecil. Dengan kata lain, pengembangan sumber energi terbarukan saat ini sudah mencapai dalam skala rumah tangga. Sesuatu yang mungkin dahulu dianggap mustahil, tetapi sekarang semuanya bisa terwujud.

Belum lama ini telah diluncurkan sebuah wind turbine dalam skala kecil, dan hanya ditempatkan di atap rumah saja. Cukup simpel dan efisien bukan? Mini wind turbine tersebut diberi nama Swift Wind Turbine.  Swift Wind Turbine adalah sebuah produk green, mengerakan generator kecil dan dipasangkan diatap rumah. Swift Wind Turbine cukup menjanjikan, dengan bentuk tidak terlalu besar serta hanya menghasilkan suara bising sampai 15dB pada jarak 1 meter diklaim mampu menghasilkan listrik sebesar 2 ribu kWh dalam 1 tahun.

                

Swift Wind Turbine memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

  • Tidak berisik, sehingga aman beroperasi di atap rumah.
  • Pemasangan yang mudah.
  • Aman dan efisien.
  • Desain yang menarik

Instalasi Swift Wind Turbine juga mudah, dapat dipasangkan diatas atap rumah atau gedung dengan mudah. Asalkan ada jarak sekitar 2 feet (sekitar 70 cm) dari atap gedung. Selain suara bising dari turbin yang rendah, Swift Wind Turbine  juga dapat meredam getaran ketika bekerja.

                                

Akan tetapi, mini turbin tersebut masih cukup mahal jika diaplikasikan di Indonesia, dengan harga sekitar $10.000 sampai $12.000 setiap unit (berapa rupiah kira-kira?). Swift Wind Turbine  dikembangkan oleh Swift Wind Turbine dan  baru dipasarkan bulan Juli 2008.

Bagaimana dengan kita, mampukah negara kita (Pemerintah) mengembangkan energi terbarukan (Renewable Energy-RE) sebagai sumber energi alternatif? Indonesia adalah sebuah negara dengan garis pantai yang cukup panjang dengan kapasitas angin rata-rata tahunan yang intermediet (sekitar 9 m/s) dan tingkat pancaran matahari yang cukup tinggi (karena terletak di sekitar khatulistiwa). Sudah banyak peneliti di Indonesia yang melakukan riset dan kajian mengenai RE yang murah dan sesuai dengan kondisi ekonomi dan alam Indonesia. Sekarang, mampukah Pemerintah kita membuat sebuah kebijakan dan bantuan dana (hibah aplikasi) atas energi terbarukan dan alternatif? Ataukah kita masih ingin selalu dipusingkan dengan setiap terjadinya gejolak kenaikan harga BBM? Atau masih belum sadarkah kita semua jika minyak bumi semakin menipis?

Sumber : http://www.obengware.com/news/index.php?id=2351
              http://www.swiftwindturbine.com
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 12 of 24

Statistik

Visitors: 27115


© 2008 Yayasan Pijar Cendikiawan.
Hosted By VIPNET Lampung