|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Friday, 12 November 2010 |
|
Perubahan iklim yang diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca (GRK) yang berlebihan sudah sangat terasa dampaknya saat ini. Beberapa dampak nyata yang dimaksud adalah kemarau yang semakin panjang serta musim hujan yang singkat namun memiliki kecenderungan intensitas curah hujan yang lebih tinggi, meningkatnya permukaan air laut, krisis persediaan makanan akibat tingginya potensi gagal panen, krisis air bersih, meluasnya penyebaran penyakit tropis, kebakaran hutan, serta hilangnya jutaan spesies flora dan fauna karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan suhu di bumi (Armeli Meifiana etl, 2004). Studi yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), menyatakan bahwa terdapat peningkatan permukaan air laut Teluk Jakarta setinggi 0,8 cm. Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2007) menjelaskan bahwa di tahun 2006 terdapat 262.984 ha area persawahan yang terendam banjir dan 104.802 ha diantaranya gagal panen. Tidak hanya itu, di tahun yang sama, area persawahan yang terkena kekeringan mencapai 262.592 ha dengan 63.568 ha diantaranya mengalami gagal panen. Sementara dari sisi ekonomi, Steinberg, F. (2007) memberikan gambaran kerugian materiil sebesar USD 453 juta akibat banjir besar yang melanda Jakarta dan menyebabkan 80 orang meninggal. |
|
Selengkapnya...
|