Home arrow Berita YPC arrow Seminar Ketenagalistrikan BKE - PII
Selamat Datang! di situs resmi Yayasan Pijar Cendikiawan, sebuah yayasan yang konsen di bidang Energi Terbarukan (Renewable Energy)
 
Seminar Ketenagalistrikan BKE - PII E-mail
Ditulis oleh: Barony Herdiarto   
Friday, 24 April 2009

Latar belakang

Penggunaan energi terbarukan dengan persentase 17 % dari energi mix nasional seperti yang tertuang dalam blue print pengelolaan energi nasional 2005-2025 membuat stakeholder di bidang ketenagalistrikan pro aktif mencari solusi percepatan pengembangan energi terbarukan. Percepatan bukan hanya mengenai penelitian dan pengembangan akan tetapi dilakukan disemua sektor secara simultan yang meliputi  kebijakan pendukung, analisa kegagalan dan pengembangan kerjasama antar lembaga untuk  mendapatkan kesamaan visi dan sinergi dalam mengembangkan energi terbarukan di Indonesia.

Di sisi lain pertumbuhan permintaan akan energi listrik dalam lima tahun terakhir mengalami kenaikan yang signifikan (rata rata di atas 7 %/ tahun)(1) sedangkan pertumbuhan tersebut tidak dibarengi dengan pembangunan pembangkit sehingga terjadilah krisis listrik pada pertengahan tahun 2007 sampai akhir tahun 2008

 

Mega proyek 10.000 MW tahap pertama dengan sumber energi batu bara diharapkan dapat memenuhi kebutuhan listrik nusantara terutama jawa bali yang merupakan wialayah pengguna energi listrik terbesar di Indonesia. Akan tetapi dengan melihat laju pertumbuhan dan proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2012, akan terjadi lagi kekurangan daya sehingga pemerintah mulai mencanangkan program 10.000 MW tahap II dimana pada tahap ini sumber energi terbarukan mendapat porsi 70% (7.000 MW).(2)

Terkait dengan pembangunan pembangkit listrik, keterlibatan para perekayasa dalam negeri belum dioptimalkan. Hal ini terbukti masih dominannya teknologi dan rancangan pembangkit listrik yang melibatkan tenaga ahli dan teknologi dari luar negeri. Oleh karena itu perlu dipikirkan dan dirancang pembangunan pembangkit listrik yang mengikutsertakan perekayasa dan teknologi terapan dalam negeri terutama yang menggunakan sumber energi terbarukan dan limbah industri.

 

Tujuan

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka seminar yang mengambil tema ketenagalistrikan dengan sub tema ″pengembangan teknologi ketenagalistrikan yang menunjang pemanfaatan energi baru dan terbarukan untuk mendukung kebijakan energi nasional″ bertujuan (3):

·         Menggali potensi rekayasa teknologi terapan pembangunan pembangkit energi terbarukan yang berasal dari perekayasa dan desain serta kandungan lokal.

·         Mengetahui dan merumuskan wilayah potensi sumber energi terbarukan yang layak dikembangkan secara teknis dan ekonomis untuk pembangkit tenaga listrik.

·         Mengetahui teknologi terkini yang telah dikembangkan dalam bidang pembangkit tenaga listrik di dunia internasional dan kemungkinan dapat diimplemtasikan dengan tenaga perekayasa dan engineer domestik.

·         Mengkaji dan merumuskan permasalah strategis baik finasial, teknis, dan sosial terhadap pengembangan pembangkit energi terbarukan dengan benchmark pembangkit energi terbarukan yang telah ada.

·         Merumuskan skema pembiayaan dan pengembangan pembangkit energi terbarukan yang melibatkan pengusaha menengah dan kecil serta bank lokal.

·         Menyelaraskan kebijakan pemanfaatan teknologi terapan dan peraturan perundangan yang berlaku dalam bidang pembangkit energi terbarukan yang memberikan insentif terhadap produk lokal dan pengusaha domestik.

Pelaksanaan dan pemakalah

Pelaksanaan seminar ini dilakukan di gedung BPPT auditorium dan ruang komisi pada hari Kamis, 23 April 2009 dari pukul 08.00 – 16.00 WIB dengan key note speaker  menteri ristek yang diwakili oleh kepala BPPT bapak DR. Ir. Marzan Aziz Iskandar, IPM.  Seminar dengan tema ketenagalistrikan, dibagi dalam dua sesi dimana pada sesi pertama mengenai ketenagalistrikan diisi oleh wakil dari PT. PLN (Persero), BPPT, industri manufaktur micro hydro dan pengembang listrik swasta yang diwakili oleh Medco Power Indonesia. Pada sesi kedua mengenai regulasi dan financial diisi oleh wakil dari ESDM, DEN, Bapenas dan lembaga keuangan.

 

Tinjauan seminar

Seminar yang diadakan oleh Badan Kejuruan Elektro Persatuan Insinyur Indonesia (BKE PII) yang bekerja sama dengan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menghadirkan lembaga-lembaga terkait dengan pengembangan energi terbarukan. Dalam seminar ini muncul pandangan mengenai system ketenagalistrikan masa depan dengan mengutamakan pemanfaatan sumber energi setempat dan skema pendanaan yang sudah disiapkan oleh pemerintah terkait dengan pengembangan infrastruktur termasuk pengembangan ketenagalistrikan.

Pemerintah juga terus menyempurnakan kebijakan yang terkait dengan pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan sebagai pembangkit listrik. Harga jual listrik ke PT. PLN (Persero) dan  insentive pajak saat ini terus disempurnakan dalam upaya mendorong terealisasinya sumber pembangkit energi yang ramah lingkungan ini.

Akan tetapi, harga jual yang ditetapkan oleh PT. PLN (Persero) saat ini masih menjadi perdebatan. Hal ini dikarenakan harga jual listrik dari swasta ke PT. PLN (Persero) dinilai tidak sesuai dengan harga investasi dan produksi pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan. Salah satu pengembang listrik swasta dalam negeri melakukan ekspansi pemanfaatan teknologi biomass di Singapura dikarenakan adanya dukungan yang berpihak pada sisi pengembang.

Kesiapan industri manufaktur teknologi EBT terus dikembangkan dengan mendapat dukungan dari lembaga R&D dalam negeri. Penelitian dan pengembangan teknologi EBT dalam negeri mempunyai posisi strategis yang dapat menurunkan biaya investasi dan dapat menumbuhkan lapangan kerja. Akan tetapi dibutuhkan dukungan pemerintah pada sisi resiko teknologi hingga didapakatkannya approvel design yang memenuhi standart.

Dewan energi nasional (DEN) yang dibentuk berdasarkan keputusan presiden nomor 26/2008 belum memberikan pandangan resminya karena hingga saat ini belum diresmikan oleh presiden.

 

Pandangan Yayasan Pijar Cendikiawan

Yayasan Pijar Cendikiawan mempunyai pandangan bahwa proyek 10.000 MW tahap I yang diharapkan selesai pertengahan tahun 2009 merupakan solusi jangka pendek dalam upaya  mengatasi krisis energi listrik dengan menggunakan 100 % sumber energi batu bara yang dikonversi menjadi energi uap.  Solusi jangka panjang dalam hal ketahanan energi diharapkan dilakukan pada mega proyek 10.000 MW tahap II dengan kandungan energi terbarukan sebesar 70%. 

Skema pengembangan pembangkit listrik yang akan didasari oleh pemanfaatan sumber energi setempat dan mengajak pihak swasta untuk turut mengembangkan pembangkit listrik dengan system tersebar sangatlah sesuai dengan letak geografis Indonesia. Dengan skema ini diharapkan rasio elektrifikasi dapat terus ditingkatkan dengan cepat dan krisis energi berupa pemadaman bergilir tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang. Akan tetapi, penyediaan listrik di daerah tertinggal tidak dapat dilakukan tanpa bimbingan pelaksanaan kegiatan produktif untuk masyarakat sekitar. Hal ini perlu menjadi perhatian  karena dapat menimbulkan dampak negative dan program pelistrikan diwilayah tertinggal menjadi tidak efisien.

Disisi lain pengembang pembangkit listrik sedang memperdebatkan harga nilai jual listrik yang mereka dirikan. Terkait dengan hal di atas, ada peluang integrasi program instalasi listrik dan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan produktif dan jika pengembang tersebut memanfaatkan sumber energi terbarukan maka dapat memanfaatkan dana CDM.

Program desa mandiri energi, program green PNPM mandiri dan listrik pedesaan yang merupakan program pemerintah dalam memanfaatkan energi terbarukan untuk public dapat menjadi motor penggerak bagi solusi masalah tersebut diatas dalam suatu integrasi program dan bentuk keberpihakan pada masyarakat yang berada di daerah terpencil.

 

Yayasan Pijar Cendikiawan saat ini sedang melakukan kajian integrasi program antara penyediaan listrik dan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan produktif. Integrasi program ini mengedepankan konsep konservasi energi dan efisiensi energi sehingga diharapan losses energy yang seminimal mungkin. Seiring dengan hal tersebut, partisipasi gender dalam kegiatan ini juga sedang dikaji melalui diskusi-diskusi dan konsolidasi dengan rekan-rekan dari lembaga yang menangani masalah gender.

 

 Daftar pustaka

1.      Ari Senoaji, Implementasi Pembangkitan Energi Terbarukan Di Lingkungan PT PLN (Persero) Ditinjau Dari Desain, Operasi, Pemeliharaan Dan Aspek Bisnis, Seminar ketenaga listrikan BKE PII, 23 April 2009

2.      Bidang kelistrikan, http://elektroindonesia.com/web/?m=berita&id=1&kd=110&n=4

3.      Berita kegiatan, http://elektroindonesia.com/web/?m=berita&id=1&kd=110&n=4

 

 

 

 
< Prev   Next >

Statistik

Visitors: 140653


© 2010 Yayasan Pijar Cendikiawan.
Hosted By VIPNET Lampung