|
Skema pembangkit listrik masa depan |
|
|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Tuesday, 09 June 2009 |
Skema pengembangan yang berkelanjutan saat ini telah menjadi isu yang sangat menarik untuk didiskusikan. Pengertian pengembangan yang berkelanjutan ini dapat diartikan dalam sudut pandang yang berbeda-beda. Jika kita mengikuti pandangan Bruntland Report (1987), penggunaan pengembangan yang berkelanjutan memiliki arti pengembangan yang melihat kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan kebutuhan generasi yang akan dating. Upaya untuk memenuhi criteria keberlanjutan yang lebih spesifik dan indicator yang sesuai dengan lingkungan yang spesifik, maka harus mempertimbangkan unsure-unsur penunjang yang terdapat di wilayah local, nasional dan kebijakan dunia dengan cara memperhatikan konsekuensinya untuk jangka panjang. Terkait dengan pengembangan energi yang berkelanjutan, skema penggunaan pembangkit mini untuk mengadaan energi listrik sudah dilakukan di negara-negara industri dan negara maju (1)
Skema penggunaan pembangkit mini yang saat ini sudah dilakukan di negara-negara maju terjadi karena adanya dukungan letak geografis, administrasi dan informasi yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat sebagai pengguna energi. Skema ini juga merupakan salah satu upaya konservasi dan efisiensi energi untuk meminimalisasi biaya produksi, distribusi dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan ekologi sekitar. Selain skema pembangkit mini, pengembangan skema pembangkit terdistribusi yang dikombinasikan dengan skema pembangkit terpusat merupakan skema yang akan digunakan negara-negara untuk masa depan. Melihat kebutuhan energi listrik yang terus meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduk, perkembangan industrialisasi dan perubahan gaya hidup merupakan potensi terjadinya krisis energi listrik jika tidak disikapi dengan cermat dan hanya memanfaatkan sumber energi fosil. Hal ini sudah terbukti pada bangsa Indonesia yang mengalami puncak krisis listrik pada pertengahan tahun 2007 hingga akhir 2008(2) dimana terjadi pemadaman bergilir, keluarnya SKB lima menteri, kewajiban menggunakan genset 1 minggu sekali untuk dunia retail dan kebijakan penghematan listrik(3).
Pembangkit micro Skema pembangkit micro untuk tempat tinggal yang telah dilakukan di negara-negara maju merupakan upaya minimalisasi penggunaan energi fosil dan efisiensi distribusi energi. Kajian mengenai pembangkit micro sebagai solusi ketahanan energi sedang dilakukan di negara-negara berkembang yang sudah lama memperhatikan teknologi energi terbarukan. Sebagai contoh micro wind turbin di Inggris yang pemanfaatannya dilakukan untuk perkotaan di Inggris dan dalam waktu dekat akan segera dikomersilkan. Skema pembangkit micro berupa solar house system (SHS) pernah dilakukan di Indonesia dengan total kapasitas terpasang sebesar 10 MW untuk kurun waktu 1970-1990 yang diperuntukkan untuk desa tertinggal memperoleh pendanaan dari pinjaman lunak dan grant. Pemberian Photovoltaic gratis dianggap sebagai langkah yang tidak tepat untuk mendukung keberlanjutan program SHS karena masyarakat tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap teknologi(4). Analisa kegagalan yang sudah dilakukan mengenai aplikasi & sistem terapan SHS ini haruslah dikaji lebih lanjut sehingga program SHS dalam jumlah yang signifikan dan tepat managemen dapat memberikan kontribusi dalam mitigasi perubahan iklim dan peningkatan standar kehidupan(5). Pembangkit terdistribusi
Gambar 1. Pembangkit terdistribusi Integrated network management(6)
Pembangkit terdistribusi merupakan gabungan dari pemanfaatan sumber energi fosil dan non fosil seperti yang ditunjukkan gambar 1 merupakan solusi tepat bagi pengembangan pembangkit di Indonesia. Pembangkit terdistribusi menghasilkan daya listrik yang berbeda-beda karena pembangkit ini disesuaikan dengan potensi yang ada di wilayah sekitar. Potensi sumber energi terbesar yang ada di suatu wilayah akan dijadikan sebagai sumber pembangkit energi utama dan didukung oleh sumber energi lainnya untuk mencukupi kebutuhan energi wilayah yang telah ditentukan. Dekatnya pembangkit dengan beban pusat menyebabkan efisiensi pada distribusi, jaringan transmisi, biaya operasional dan sedikitnya looses yang terjadi(7). Namun, disisi lain pemilihan pembangkit terdistribusi akan membawa dampak pada masalah teknis dan operasional terkait pemilihan teknologi energi terbarukan. Sumber energi terbarukan yang sangat dipengaruhi oleh iklim membuat sumber energi terbarukan tidak konstan seperti intensitas matahari dan kecepatan angin yang selalu berubah-ubah. Menyikapi hal ini, sangatlah tepat jika kajian mengenai potensi sumber energi utama dan energi pendukung yang terdapat di wilayah yang di maksud dilakukan secara optimal dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga pembangkit-pembangkit yang terdistribusi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar dan merupakan penyangga ketahanan energi nasional.
Daftar isi 1. A.S. Bahaj, L.Myers, P.A.B. James. Urban energy generation: Influence of micro-wind turbine output on electricity consumption in buildings. Energy and Buildings. 2007; 39; 154–165. 2. Bidang kelistrikan, http://elektroindonesia.com/web/?m=berita&id=1&kd=110&n=4 3. http://economy.okezone.com 4. Maria Retnanestri, Hugh Outhred, e8, UNSW-ADRA/AusAID & STTNAS. Workshop on Renewable Energy & Sustainable Development in Indonesia. January, 19-20, 2009, Jakarta. 5. R.Posorski, M.Bussmann, C. Menke. Does the use of Solar Home Systems (SHS) contribute to climate protection?. Renewable Energy, 2008; 28;1061–1080. 6. Arya Rezavidi, MEE, Ph.D. Teknologi terapan dan rekayasa pada pembangkit energi terbarukan: kelayakan pengembangan dengan perekayasa dan produk local. Seminar ketenagalistrikan; Auditorium BPPT. 23 April 2009, Jakarta. 7. M. Dicorato, G. Forte, M. Trovato. Environmental-constrained energy planning using energy-efficiency and distributed-generation facilities. Renewable Energy. 2008; 33;1297–1313.
|