Home arrow Berita YPC arrow Gambaran energi dipedesaan
Selamat Datang! di situs resmi Yayasan Pijar Cendikiawan, sebuah yayasan yang konsen di bidang Energi Terbarukan (Renewable Energy)
 
Gambaran energi dipedesaan E-mail
Ditulis oleh: Barony Herdiarto   
Monday, 22 June 2009

Kurangnya pelayanan energi dipedesaan negara berkembang menimbulkan dampak yang serius pada masalah kesehatan dan lingkungan. Sebagian besar masalah ini terjadi pada masyarakat pedesaan yang menggunakan bahan bakar tradisional, penggunaan teknologi sederhana tanpa memperhatikan efisiensi energi dan emisi pemanasan.

Karakter masyarakat pedesaan yang tersebar dan sedikitnya jumlah penggunaan energi komersial menyebabkan rendahnya kapasitas peralatan yang efisien untuk transmisi,  sistem distribusi dan infrastruktur energi lainnya. Jika kita mengacu pada data bank dunia mengenai harga energi per kilowatt sebesar $ 0.7 maka nilai ini tujuh kali lebih besar jika dibandingkan dengan penyediaan listrik di perkotaan. Sehinga cara konvensional untuk penyediaan infrastruktur energi tidaklah efisien dan juga masalah listrik dipedesaan juga kurang mendapatkan prioritas dari pemerintah(1).

Karena kurangnya akses terhadap ketersediaan energi modern dan listrik maka masyarakat desa menggunakan energi manusia dan energi binatang untuk melakukan tugas mekanik seperti aktifitas pertanian, transportasi dan pembakaran biomass secara langsung (kayu, sisa tanaman, kotoran) untuk pengadaan panas dan cahaya. Energi manusia dikeluarkan untuk pekerjaan rumah tangga (pengadaan dan persiapan biomass untuk bahan bakar, mengambil air, mencuci pakaian), pertanian dan industri kecil. Bahan bakar biomass digunakan untuk memasak, pemanas ruangan, pemanas air untuk mandi dan memenuhi kebutuhan industri untuk pemanasan.

Energi manusia dalam jumlah yang besar banyak dihabiskan untuk mengumpulkan kayu bakar dan ini terjadi di banyak negara dan ini cenderung ditanggung oleh perempuan dan anak-anak(2).

Dampak energi tradisional di pedesaan

Penggunaan sumber energi biomass yang dilakukan secara konvensional mengakibatkan beberapa hal :

  • Nilai panas yang dihasilkan oleh bahan bakar ini rendah, mereka membutuhkan  jumlah yang lebih banyak untuk memperoleh kebutuhan energi yang sama. Oleh karena itu, waktu yang dihabiskan untuk mendapatkan bahan bakar ini sangatlah lama : 1 – 5 jam perhari(3)
  • Bahan bakar yang digunakan merupakan pemberi nutrisi bagi tanah. Ketergantungan terhadap kayu bakar yang semakin meningkat mengakibatkan menambah jumlah ketidakseimbangan ekologi
  • Terdapat masalah kesehatan yang dihubungkan dengan siklus bahan bakar. Pembiaran terhadap asap yang terjadi selama memasak dapat menyebabkan inveksi pernafasan akut, penyakit batuk kronis, pendek usia dan kanker paru-parun dan masalah mata(4). Dampak terhadap masalah kesehatan yang merugikan dapat menyebabkan peningkatan kemiskinan dimasa mendatang akibat meningkatnya biaya kesehatan dan mengurangi produktifitas. Seluruh keluarga mungkin ada yang tidak kebal  akan dampak secara langsung terhadap kesehatan dari kurangnya bahan bakar yang layak untuk  memasak (malnutrisi) dan untuk mendidihkan air (parasit, diare)
  • Terdapat isu keadilan gender dan tingkatan sosial. Wanita miskin membutuhkan usaha yang lebih banyak dibandingkan dengan wanita kaya untuk memperoleh kebutuhan energi yang sama. Wanita memainkan peran penting dalam managemen energi dan memasak.

Kesesuaian teknologi energi terbarukan (TET) dipedesaan

Terdapat tiga hal penting dalam peningkatan usaha penyediaan energi bagi masyarakat miskin, yaitu (5):

  • Adanya prioritas yang tinggi dari pembuat kebijakan
  • Pemberian kuasa pada masyarakat pedesaan untuk menentukan hal-hal yang mereka anggap sangat mendesak dan membantu mengimplementasikannya
  • Adanya integrasi antara faktor pertanian, pendidikan, infrastruktur, sosial dan politik

Jika kita jabarkan maka tiga hal diatas saling berkaitan dan harus ada integrasi program dalam penerapannya. Keadaan perekonomian dan sumber daya masyarakat desa tidak mungkin dapat melakukan pelaksanaan program efisiensi energi tanda adanya dukungan dari institusi luar ataupun dukungan dari pemerintahan setempat. Akan tetapi masyarakat desa memiliki gambaran tentang kebutuhan prioritas mereka terkait dengan program peningkatan efisiensi energi.

Disisi lain, kesesuaian teknologi untuk suatu daerah merupakan hal mutlak bagi peningkatan produktifitas masyarakat dengan tetap mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan sekitar. Selain itu, teknologi yang akan diterapkan untuk masyarakat desa haruslah sederhana tetapi dapat memberikan kenyamanan dalam penggunaannya dan dapat menghemat sumber energi dan waktu.

Kesesuaian dan efisiensi energi yang tepat untuk wilayah pedesaan adalah dengan memanfaatkan sumber energi yang banyak terdapat diwilayah sekitar dan menggunakannya untuk bahan bakar teknologi.

Dari gambaran ini, dapat kita tentukan kriteria teknis suatu sumber energi dan teknologi yang sesuai untuk suatu wilayah (6):

  • State of art (sesuai dengan wilayah), mengindikasikan dimana mereka menggunakan, kapasitas apa, untuk tujuan apa dan dalam kondisi seperti apa
  • Technical resources (syarat teknis), mengindikasikan syarat teknis pemanfaatan sumber energi seperti kecepatan angin, radiasi matahari, ketersediaan biomass
  • Operating characteristic (karakteristik pengoperasian), termasuk kebutuhan akan penduduk yang memiliki keahlian, mengerti dan merawat teknologi
  • Level of local replicability (ketersediaan bahan baku), termasuk ketersediaan bahan-bahan lokal dan sumber-sumber untuk merakit teknologi ini
  • Environment implication (dampak terhadap lingkungan) terbilang relatif terhadap keberadaan teknologi
  • Sectoral effectiveness, teknologi harus dapat digunakan untuk tujuan yang berbeda pada musim yang berbeda. Contoh teknologi bio gas harus dapat digunakan untuk membangkitkan listrik pagi pengadaan irigasi di musim kering, sementara bio gas juga harus mensuplay panas untuk pengeringan padi di musim hujan ketika bahan bakar biomass lainnya lembab/basah.

Solusi energi dipedesaan

Keberadaan infrastruktur dasar seperti ketersediaan akses jalan, sekolah, puskesmas, ketersediaan air bersih dan pasar tradisional haruslah didukung dengan menyediakan energy mekanik dan listrik yang berasal dari sumber energi setempat dan menggunakan teknologi ramah lingkungan.

Sifat energi terbarukan yang ²intermiten² dapat disiasati dengan menggunakan sistem hyrid sedangkan budaya hemat yang selama ini baru melekat pada konsumsi keuangan harus juga diterapkan pada sisi hemat energi. Sistem hydrid ini dapat dilakukan dengan penggabungan beberapa sumber energi terbarukan dan energi fosil yang menggunakan konsep ramah lingkungan. Namun, standar pemanfaatan teknologi energi terbarukan tidak dapat dikesampingkan sehingga teknologi yang dibangun dapat digunakan sesuai dengan yang diharapkan. Disisi lain, efisiensi energi juga harus dilakukan dalam penentuan langkah kerja pada suatu wilayah. Langkah awal berupa survey kependudukan, kegiatan masyarakat sekitar, keberadaan infrastruktur, kondisi sumber daya alam dan sumber daya manusia, potensi pasar dan melakukan diskusi dengan masyarakat sekitar mengenai kebutuhan yang dijadikan prioritas.

Penyediaan sistem energi dipedesaan tidak dapat dilakukan secara instan karena dibutuhkan pendampingan dan bimbingan baik secara teknis maupun non teknis. Program penyediaan energi dipedesaan harus dibuat dalam jangka pendek yang sifatnya mendesak, jangka menengah untuk menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan jangka panjang yang didasari oleh pendidikan.

 

Daftar pustaka

1.      Wahidul K. Biswas, Paul Bryce, Mark Diesendorf. Model for empowering rural poor through renewable energy technologies in Bangladesh. Environmental Science & Policy 4 (2001) 333–344

2.      Jose¢ Goldemberg. Rural energy in developing country.

3.      Biswas, W.K., Lucas, N.J.D., 1997b. Economic viability of biogas technology in a Bangladesh village. Energy — The International Journal 22, 763–770.

4.      Smith, K.R., 1990. Health effects in developing countries. In: Pasztor, J., Kristoferson, L.A. (Eds.), Bioenergy and the Environment. Westview, Boulder, CO.

5.      Food and Agricultural Organization and World Energy Council, 1999. The Challenge of Rural Energy Poverty. World Energy Council, London.

6.      Hope, K.R. Promoting sustainable development in developing countries: the role of technology transfer. Community Development; Journal 31, 1996; 193–200.

 

 

 
< Prev   Next >

Statistik

Visitors: 140618


© 2010 Yayasan Pijar Cendikiawan.
Hosted By VIPNET Lampung