|
Latar belakang Menyikapi kebijakan pemerintah yang telah menetapkan target pemanfaatan energi terbarukan dalam blue print energi nasional 2005 – 2025 sebesar 17%(1) dan pemanfaatan sumber energi terbarukan pada mega proyek 10.000 MW tahap dua sebesar 70%(2) harus disikapi secara simultan antara pelaksanaan proyek dan pengenalan energi terbarukan pada masyarakat umum. Hal ini sangat beralasan karena salah satu kendala penyebaran teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) adalah kurangnya SDM local akan pengetahuan dan keahlian di bidang teknologi EBT sementara potensi energi terbarukan keberadaannya tersebar dan sebagian besar berada di wilayah yang belum terjangkau listrik atau daerah terpencil. Statistic menunjukkan jumlah pemanfaatan sumber energi terbarukan masih sangat terbatas. Sebagai contoh pemanfaatan sumber biomass dan microhydro kapasitas terpasangnya masing-masing sebesar 0.64% dan 18.26% sedangkan geothermal kapasitas terpasang baru sebesar 2.96%(3) dari potensi yang tersedia. Keadaan ini harus disikapi secara bijaksana dengan menggunakan strategi yang dapat berjalan secara simultan antara peningkatan SDM dan instalasi.
Tabel 1. Data kapasitas sumber energi terbarukan di Indonesia   Hubungan antara keberadaan sumber energi terbarukan dan kurangnya SDM local yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang energi terbarukan harus dicari solusinya seefektif mungkin sehingga dapat mendorong pertumbuhan dan pemanfaatan energi terbarukan. Tujuan pendidikan teknologi EBT Jika kita memperhatikan trand dan arah ekonomi dunia yang beralih dari ekonomi karbon tinggi ke ekonomi karbon rendah maka kita harus mempersiapkan SDM kita agar tidak tertinggal dari sisi pengetahuan dan teknologi. Target yang diharapkan dari sosialisasi teknologi terbarukan ini adalah (i). menumbuhkan minat generasi muda untuk mengembangkan diri di bidang energi terbarukan, (ii). Semakin luasnya pengetahuan masyarakat akan energi terbarukan, (iii). Tumbuhnya industri-industri kecil yang memanfaatkan energi terbarukan, (iv). Penggunaan standarisasi pemanfaatan teknologi terbarukan sehingga akan ditemukan nilai efisiensi dan keekonomiannya, (v). tumbuhnya lapangan kerja di bidang EBT. Pendidikan energi terbarukan Laporan penelitian Co-Chairs dari gugus tugas energi terbarukan G8 menyimpulkan bahwa hambatan perkembangan energi terbarukan di negara-negara berkembang salah satunya adalah masalah pendidikan. Terkait dengan pendidikan energi terbarukan di Indonesia, sudah terdapat banyak hasil karya teknologi EBT baik yang dihasilkan oleh siswa setingkat SMU(4), mahasiswa(5) dan para peneliti(6). Berbagai lomba yang mengapresiasi hasil karya teknologi energi terbarukan juga sudah sering dilaksanakan. Suasana yang kondusif ini harus didorong dengan penyediaan fasilitas informasi dan literature yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat awam dan stakeholders. Materi yang diberikan mencakup beberapa hal antara lain (i). kebijakan pemerintah terkait pemanfaatan EBT, (ii). pengetahuan dasar tentang EBT, (iii). Teknologi EBT yang dapat diaplikasikan secara sederhana, (iv). Standarisasi penerapan teknologi EBT. e-learning Program konservasi energi yang dicanangkan oleh pemerintah harus dijadikan acuan dalam mengembangkan sistem pendidikan EBT. Efisiensi biaya, tempat dan waktu menjadi pertimbangan utama dalam media informasi EBT secara luas. Untuk mengakomodasi pertimbangan ini, sistem ICT berupa e-learning merupakan pilihan yang dianggap tepat. Para stakeholders dan pelajar baik siswa maupun mahasiswa dapat mengakses informasi ini dari mana saja dan dapat menerapkannya di wilayah sekitar mereka. Selain itu, keuntungan yang didapat dari keberadaan sistem e-learning ini telah dipelajari dan memiliki beberapa poin penting yaitu(7) : § Akses yang sangat baik – potensi untuk menjangkau pengguna sebanyaknya karena sistem ini dapat diakses melalui internet tanpa harus datang ke pusat pendidikan. § Sangat fleksibel – memberikan kenyamanan pada para pengguna untuk belajar dalam suasana yang mereka anggap nyaman, pada waktu dan tempat yang sesuai dengan keinginan mereka. § Sangat relevan – kemampuan penggunaan situs internet terus berkembang yang artinya akan lebih mudah dalam menyampaikan informasi yang up to date, relevan, demikian juga memberikan pengenalan dari sumber-sumber dari seluruh dunia terutama mengenai kerangka verja/pemikiran international § Pilihan metoda pembelajaran yang terbaik – merupakan media interaktif dengan pilihan pengajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. § Kominitas yang lebih baik – diskusi yang dapat dilakukan via email maupun on line memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan informasi energi terbarukan. § Panduan perawatan EBT yang lebih mudah – dengan adanya e-library maka memberikan kemudahan bagi para pengguna untuk mencari informasi terkait dengan kendala di lapangan dan operator terus membarui isi e-library sesuai dengan kebutuhan para pengguna. Dari penjelasan singkat di atas memberikan gambaran keuntungan dalam proses pembelajaran energi terbarukan melalui media internet yang sangat signifikan dampaknya. Media ini sangat berpotensi untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang memperoleh informasi EBT secara signifikan sehingga program pemanfaatan EBT dapat terealisasi sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Daftar pustaka 1. Blueprint pengelolaan energi nasional 2005 – 2025. Jakarta, 2005
2. Seminar dan turnamen golf bke-pii 2009. Http://www.elektroindonesia.com/web/?m=berita&id=1&kd=110&n=4 3. Maria Retnanestri. Improving Energy Sustainability in Poor Rural Communities in Indonesia. ANZSES Information Evening, Sydney, 30 September 2008 4. Finalis karya tulis sma LITL 2009, http://litl-hmtl.blogspot.com/ 5. Becak Bertenaga Suryadari PENS-ITS. Becak Bertenaga Suryadari PENS-ITS http://www.alpensteel.com/article/46-102-energi-matahari--surya--solar/391-becak-bertenaga-suryadari-pens-its.html 6. Sel Surya Buatan Dalam Negeri Justru Dipesan Luar Negeri. http://energisurya.wordpress.com/2008/10/30/ 7. Lund, C. P. and Jennings, P. J. (1997)., Tertiary Education in the Australian CRC for Renewable energy: Renewable Energy studies on the ground and online. In Proceedings of the 35th ANZSES Conference. pp 36-1 to 36-7. Canberra, Australia. |