Home arrow Berita Lain arrow Berharap pada energi bersih
Selamat Datang! di situs resmi Yayasan Pijar Cendikiawan, sebuah yayasan yang konsen di bidang Energi Terbarukan (Renewable Energy)
 
Berharap pada energi bersih E-mail
Ditulis oleh: Administrator   
Tuesday, 14 July 2009
Ada yang unik dari sebuah berita CNN beberapa waktu yang lalu terkait dengan rencana bail out para raksasa industri otomotif AS –the big three, GM, Chrysler dan Ford. Pada saat para bos ketiga industri tersebut dating ke Senat AS untk menghadiri tesimony (semacam dengar pendapat), dengan sangat demonstratif mereka datang dengan mengendarai mobil konsep SUV yang menggunakan sel bakar (fuel cell). Ada pesan dan fenomena tertentu yang menarik untuk ditangkap dibalik “aksi” ini.

Sudah bukan rahasia lagi jika industri otomotif AS nyaris kolaps seiring dengan krisis ekonomi yang melanda negaranya. Krisis yang bermula dari gagal bayar subprime mortgage (ah saya kurang paham juga istilahnya, bukan ahlinye..) ini telah berujung pada keyakinan bahwa AS sudah berada pada resesi ekonomi. Alhasil, the bigh-three ramai-ramai memohon pemerintah AS agar memberikan dana talangan bail out sebesar lebih dari 14 milyar dolar. GM agaknya yang menderita paling hebat dengan meminta dua pertiga dari dana bail out tersebut, disusul oleh Chrysler dan Ford.

Pemerintah AS (yang baru) dengan Obama sebagai Presiden terpilih jauh-jauh hari telah menyiapkan jurus-jurus penyelamat resesi dengan membuat beberapa terobosan yang berkait erat dengan kebijakan energi bersih (clean energy), teknologi ramah lingkungan dan energi terbaharukan (renewable energy). Tidak main-main, dana yang dikeluarkan untuk ini sebesar 150 milyar dolar dengan tujuan jangka pendek ialah terciptanya 2,5 juta lapangan pekerjaan di tahun 2011 dan 10% listrik dipasok dari sumber-sumber energi terbaharukan dalam jangka waktu 4 tahun dari sekarang. Demi menggapai tujuan ini, Dr. Steven Chu, sorang peraih Nobel di bidang fisika tahun 1997 yang saat ini masih menjabat sebagai ketua Lawrence Berkeley National Laboratory didaulat menjadi Menteri Energi di pemerintahan Obama sebagaimana diberitakan oleh CNN di atas.

Sudah diprediksi
Uniknya, „pengobatan“ resesi ekonomi dengan terobosan kebijakan energi terbaharukan sudah diprediksi sebelumnya oleh ilmuwan Jepang, Dr. Yoshihiro Hamakawa dari Ritsumeikan University antara tahun 2000-2001. Berdasarkan observasinya, energi (energy) dan lingkungan (environment) memegang peranan vital dalam aktifitas dan pertumbuhan ekonomi (economy).
  “…. in the regular way along capitalism, for the activation of economic development (E: Economy), we do need an increase of the energy expense (E: Energy). However, it induces environmental problems (E: Environment) by more emissions of pollutant gases. On the contrary, if the political option chooses the suppression of pollutant gas emission, it inactivates the economical development. This is 3E-Trilemma….”
  (Y. Hamakawa, Solar PV energy conversion and the 21st century’s civilization, Solar Energy Materials & Solar Cells 74 (2002) 13–23)
Prediksi hubungan ekonomi, energi dan lingkungan ia ilustrasikan pada diagram di atas. Dapat kita perhatikan bahwa pasca penggunaan energi konvesional yang diiringi dengan kerusakan lingkungan, ada fase resesi ekonomi yang berdampak pada melambatnya ekonomi. Opsi pemanfaatan energi bersih (clean energy) yang ditandai dengan panah putus-putus memiliki potensi meredam resesi dan kembali meningkatkan aktifitas ekonomi.

                            

                         (Diagram siklus ekonomi, energi dan lingkungan versi Hamakawa)

Prediksi Dr. Hamakawa agaknya tidak terlalu meleset jauh dari apa yang dialami oleh dunia saat ini, khususnya negara Paman Sam. Secara kasar, malah dapat dikatakan prediksinya cukup akurat. Baik dari fakta resesi hingga inisiatif pemerintahan baru AS mengaktifkan aktifitas riset dan pemanfaatan energi bersih sebagai salah satu obat penawar resesi.
Dua sisi mata uang
Dilihat sekilas, isu enegi bersih dan terbaharukan memang sangat manis, mulia, populer dan futuristik. Isu energi bersih dan terbaharukan menawarkan visi, konsep, aksi, serta imajinasi produk teknologi yang meningkatkan kulitas hidup masyarakat tanpa merusak lingkungan. Ketersediaan energi yang bersih terbaharukan berikut terjaganya kelestarian lingkungan sudah bukan lagi menjadi tuntutan, namun saat ini sudah berkembang menjadi pedoman. 
Tengok saja produk-produk teknologi di sekitar kita yang sederhana; kendaraan berefisiensi tinggi namun beremisi rendah, mesin cuci hemat listrik, lemari es berdaya rendah tanpa perusak ozon, lampu bohlam hemat energi, hingga mikroposesor komputer yang berdaya super kecil, semua telah mengadaptasi dan mengadopsi semangat memanfaatkan energi sebersih mungkin dengan dampak negatif yang sekecil mungkin terhadap lingkungan.
Akibat bila tidak diterapkannya isu energi ini terhadap produk teknologi sangatlah kejam. Seiring dengan persepsi, pemahaman dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap isu energi serta lingkungan, maka produsen yang tidak siap dalam mengeluarkan produk dengan pedoman energi bersih dapat ditinggal pembeli. Lihat saja dipasaran, barang yang boros listrik sudah tersisih dengan barang yang lebih hemat energi. Sebagai contoh, layar monitor komputer dengan tipe layar LCD yang hemat listrik dan lebih tajam gambarnya saat ini sudah menjadi pemain utama di bidang ini meninggalkan monitor berlayar CRT yang boros listrik dan berkualitas terbatas.

                                                    

                                              (Bumi yang hijau dan segar, dambaan kita semua?)

Di sisi lain, isu energi bersih berimplikasi pula pada perintisan produk-produk teknologi yang jauh lebih inovatif dalam artian baru, dan sedikit berbau spekulatif. Baru di sini maksudnya ia belum ada sebelumnya, dan nilai spekulatif ini ada pada tingkat keberhasilan sebuah produk baru tersebut menembus pasar.
Jelas sekali bahwa perintisan ini dimulai dari aktifitas riset dan pengembangan yang diikuti dengan komersialisasi hasil-hasil riset tersebut pada level produksi massal. Ada rangsangan baru, tema penelitian baru dan aktifitas yang jauh lebih bergairah manakala isu energi bersih diejawantahkan menjadi sebuah aktifitas nyata melalui kebijakan dan follow up nya. Pembangunan maupun perluasan fasilitas produksi untuk membuat produk inovasi menjadikan aktifitas investasi kembali berjalan. Kesadaran kolektif masyarakat sebagai konsumen yang mendorong mereka untuk membeli produk inovatif energi bersih dan ramah lingkungan akan menggairahkan perekonomian. Ujung-ujungnya pertumbuhan ekonomi secara logika diprediksi bakal meningkat.
Ini yang sebenarnya jauh lebih ditekankan ketimbang sisi mulia „meningkatkan kulitas hidup masyarakat tanpa merusak lingkungan“ dari isu energi bersih.
Di era kapitalisme pasar modern saat ini, terlepas apakah kita menilainya negatif atau positif, teknologi dan modal ibarat dua sisi uang logam, satu dan lain hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai gambaran umum, sebuah hasil riset hanya akan sekedar onggokan laporan ilmiah tanpa dukungan modal finansial untuk diambil manfaatnya. Di sisi lain, modal (baca : uang) perlu diinvestasikan untuk dibiakkan sehingga membutuhkan lahan-lahan investasi baru agar lebih berlipat ganda, yang tentu saja mejadikan sang pemodal kaya raya. Dari aktifitas simbiosis ini, munculah apa yang populer disebut dengan technology-driven economy; ekonomi yang dibangun dan diarahkan oleh perkembangan teknologi.

Kembali ke keputusan Presiden Obama melirik dan memberdayakan teknologi energi bersih dan terbaharukan di atas, jelas sekali dapat dipahami bahwa ekonomi AS yang sedang lesu akan diprediksi kembali bergairah jika ada inovasi-inovasi dalam perekonomian.
Dengan meletakkan isu energi sebagai pendorong utama aktifitas perekonomian, nampak sekali adanya harapan menghidupkan riset-riset di bidang energi baharu (sel surya, sel bakar atau tenaga angin) yang akan membuka pasar-pasar ekonomi baru berupa produk-produk inovatif yang berkaitan langsung dengan energi baru.
Dapat diambil contoh, semisal sel surya atau kendaraan berpenggerak sel bakar yang dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat. Perluasan maupun pembangunan fasilitas produksi tentu saja akan terjadi seiring dengan pembelian alat-alat produksi baru. Lapangan kerja menigkat karena dibukanya keahlian-keahlian baru. Dan yang lebih penting, pertumbuhan dan peredaran investasi/modal dapat lebih terjamin.
Hal tersebutlah yang agaknya diharapkan oleh para Bos the big-three tadi. Dengan bantuan bail out plus potensi rejeki dari kebijakan pemerintahan baru, produk inovatif mereka bisa jadi menjadi salah satu kunci kebangkitan AS ini dari kelesuan resesi seiring dengan inisiatif Presiden terpilih Obama menjadikan energi terbaharukan sebagai pil manjur pengobat resesi.Sebuah kolaborasi bagus politik-kekuasaan-uang bukan? Ya, ambil sisi positifnya saja lah; bumi (mudah-mudahan) semakin segar!


Sumber: http://lpkta.ft.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47:berharap-pada-energi-bersih&catid=34:energi-terbaharukan


 
< Prev   Next >

Statistik

Visitors: 140672


© 2010 Yayasan Pijar Cendikiawan.
Hosted By VIPNET Lampung