Home arrow Berita YPC arrow Wanita & pemanfaatan energi di pedesaan
Selamat Datang! di situs resmi Yayasan Pijar Cendikiawan, sebuah yayasan yang konsen di bidang Energi Terbarukan (Renewable Energy)
 
Wanita & pemanfaatan energi di pedesaan E-mail
Ditulis oleh: Barony Herdiarto   
Monday, 06 July 2009
Kunjungan tim peneliti YPC ke salah satu desa dalam rangka menggali potensi energi terbarukan & pola penggunaan energi di desa tanpa aliran listrik PLN tersebut memberikan suatu wawasan bahwa dalam memilih sumber energi masyarakat desa lebih mengutamakan sumber energi yang terdapat disekitar mereka & harga energi yang paling murah. Hal ini terlihat dari 100% penduduk desa yang menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi utama walau sebagian besar penduduk sudah memiliki kompor minyak tanah dan sebagian kecil juga memiliki kompor gas.  Fenomena ini terjadi juga pada masyarakat desa yang berada di sekitarnya. Dengan tingkat pendapatan penduduk yang beragam, perbedaan pemanfaatan kayu bakar ini hanya terjadi dari sisi waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan. Kompor gas & kompor minyak tanah digunakan untuk memasak dalam waktu yang relative cepat seperti saat malam hari dan saat ada tamu yang berkunjung. Pilihan penduduk untuk menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi utama di dapur karena ketersediaan kayu bakar disekitar tempat tinggal mereka & banyaknya kelapa sawit yang dapat digunakan sebagai minyak bakar saat proses pembakaran. Tidak salah jika akhirnya penduduk menentukan pilihan pada kayu bakar sebagai sumber energi utama. Terlebih kerjasama antara suami, istri dan anak dalam mengumpulkan kayu bakar sangat fleksibel tanpa adanya suatu doktrin pada salah satu anggota keluarga. 
Analisa karakteristik konsumsi energi rumah tangga di Indonesia (Nuryanti, Scorpio S. Herdinie, 2007) menyebutkan bahwa dominasi energi non komersial (khusunya kayu bakar) dalam konsumsi energi pada sector rumah tangga terjadi karena tiga faktor yaitu : (i). faktor ekonomi, (ii). faktor infrastruktur, dan (iii). faktor pola pikir. (Herdiarto B, 2009) menyebutkan bahwa program kompor & tabung gas gratis pemerintah di salah satu desa akhirnya kurang berjalan karena daya beli masyarakat yang rendah menyebabkan sebagian masyarakat kembali menggunakan kayu bakar. Salah satu penyebab terjadinya penggunaan kembali kayu bakar karena nilai keekonomisan kayu bakar dan infrastruktur jalan yang rusak menyebabkan harga tukar tabung menjadi mahal dan ketersediaan tabung di tempat penjualan sering kali kosong. Selain itu, pola pikir dan ketakutan menggunakan kompor minyak dan kompor gas masih terdapat pada beberapa rumah tangga di pedesaan. 
Secara global, sebanyak dua milyar manusia tidak memperoleh energi yang bersih dan aman untuk memasak dan mereka tergantung pada sumber energi biomass tradisional yaitu kayu bakar (DFID, 2002). Sistem pembakaran tidak sempurna yang terjadi di tungku kayu bakar menimbulkan asap yang dapat menyebabkan mata perih dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan ispa. 
Berdasarkan keadaan di atas, perhatian terhadap pengguna energi di dapur yang dominasinya adalah kaum wanita harus memperoleh perhatian dan melibatkan kaum wanita dalam penentuan kebijakan pemanfaatan energi & pengembangan teknologi. Seiring dengan program konservasi energi, desa mandiri energi dan pemanfaatan sumber energi terbarukan, maka kesesuaian antara sumber energi setempat dan pola konsumsi energi harus disikapi secara bijak sehingga masyarakat mampu mengelola sumber energi yang ada tanpa mengesampingkan dampaknya pada ekologi dan kesehatan. Strategi pemanfaatan energi harus menyentuh masalah-masalah yang ada namun kritis sehingga energi yang dihasilkan dapat meningkatkan kualitas hidup. Penentuan strategi pemanfaatan energi antara lain ditinjau dari sisi (i). Identifikasi masalah energi diwilayah pedesaan untuk meningkatkan pendapatan, dan (ii). Memberi kesempatan kepada kaum wanita untuk menjadi pelaku bisnis energi.
Tinjauan (i) sudah mendapatkan perhatian dari berbagai lembaga penelitian dimana pola konsumsi energi termasuk jenis pemanfaatan energi suatu teknologi sangat penting perannya terhadap peningkatan kesejahteraan. Namun, tinjauan (ii) sangat menarik untuk diulas karena kaum wanita merupakan pelaku langsung dalam pengelolaan energi di rumah tangga khususnya masalah keuangan dan efisiensi energi. Contoh penentuan penggunaan kayu bakar sebagai sumber energi utama merupakan kebijakan kepala rumah tangga yang pelaksanaannya sepenuhnya dilakukan oleh kaum wanita. Pertimbangan ketersediaan dan ekonomis dapat diterima oleh kaum wanita sehingga dampaknya terhadap kelangsungan ekologi & kesehatan kurang mendapatkan perhatian. Dari satu contoh kasus energi ini, sudah sepantasnya jika kita melibatkan kaum wanita dalam menentukan jenis teknologi yang sesuai dengan potensi sekitar sehingga mereka secara sukarela akan menjadi tenaga promosi untuk teknologi tersebut. Tidak hanya itu, lahan tidak produktif pada pekarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk kegiatan peningkatan ekonomi keluarga tanpa mengesampingkan tugas & tanggungjawab utama wanita dalam rumah tangga. Energi yang dibutuhkan untuk pengelolaan lahan yang dekat dengan tempat tinggal sangat efisien sehingga hasil yang didapat dirasakan secara langsung dan tidak langsung. 




 
< Prev   Next >

Statistik

Visitors: 140643


© 2010 Yayasan Pijar Cendikiawan.
Hosted By VIPNET Lampung