|
Asian Development Bank (2003) memberikan informasi mengenai data kecelakaan lalu lintas di Indonesia yang cukup mengejutkan. Dimana, 97% kecelakaan lalu lintas yang terjadi disebabkan karena factor manusia dengan jumlah korban kecelakaan yang cukup fantastis. Sebanyak 24.500.000 kecelakaan menyebabkan 1.000.000 korban luka-luka dan 30.000 korban meninggal dunia dengan perinciaan pengguna motor sebanyak 73% dan pengguna mobil sebanyak 16%. Kekhawatiran senada juga datang dari organisasi kesehatan dunia (WHO) yang memberikan informasi mengenai prediksi kecelakaan lalu lintas di tahun 2020 akan menjadi penyebab kematian ke tiga tertinggi di dunia. Di sisi lain, isu perubahan iklim yang diakibatkan oleh penggunaan bahan bakar fosil juga semakin mendapatkan perhatian dunia. IPPC (1996) menyebutkan bahwa sektor transportasi merupakan salah satu sektor penyumbang polusi udara yang menyebabkan peningkatan keasaman dan pencemaran umum CO2. Pada tahun 1990, sektor transportasi merupakan pengguna energi dunia sebesar 25% dan secara global telah menyumbangkan emisi CO2 sebesar 22%.
Berdasarkan data tersebut di atas dan melihat masih rendahnya kesadaran akan pentingnya upaya mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas dan mesíh rendahnya kemampuan teknis mayoritas pengguna kendaraan maka dianggap perlu untuk dilakukan sosialisasi teknik mengemudi yang aman, cerdas, ekonomis dan dapat mengurangi emisi udara. Program Driving Skills for Live (DSFL) yang digagas oleh Asia Injury Prevention Foundation (AIP Foundation) dan bekerjasama dengan Ford Motor Indonesia (FMI) memiliki misi utama yang sederhana yaitu mengajarkan dasar-dasar keselamatan mengemudi yang sangat mudah dipahami dan dipraktekkan, yang juga memberikan teknik mengemudi yang dapat menghemat bahan bakar dan sangat relevan dengan kondisi naiknya harga bahan bakar minyak dewasa ini. Pelaksanaan program ini mendapatkan dukungan dari institusi pemerintah yang terkait dengan sector trasportasi yaitu DitJen Perhubungan Darat Departemen Perhubungan, Pusdiklat Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Indonesia Defensive Driving Center (IDDC). Sedangkan peserta training yang jumlahnya hampir 100 orang merupakan wakil dari beberapa perusahaan pengguna kendaraan bermotor khususnya roda empat, pelaku usaha otomotif, kontraktor dan pemerhati energi.  (a) (b) Gambar 1. Suasana ruang teori training DSFL. (a). Persiapan peserta Training DSFL yang mewakili perusahaan-perusahaan, (b). Pembukaan Training DSFL oleh Branch Marketing Manager Ford Motor Indonesia. Training yang diadakan di Driving Track Lemdiklat POLRI CIKEAS Cibubur di bagi dalam dua sesi. Sesi pertama yang merupakan sesi teori di mulai sejak pukul 10.00 WIB dan seharusnya berakhir pada pukul 12.00 namun baru berakhir pada pukul 13.00. Hal ini terjadi karena tingginya antusias peserta dalam berdiskusi dan tukar pengalaman antara sesama peserta yang di mediasi oleh trainer. Materi yang disampaikan dalam sesi teori ini adalah tayangan video beberapa kecelakaan lalu lintas, kajian penyebab kecelakaan dan tips aman mengemudi yang terdiri dari mengemudi dengan aman dan mengemudi secara ekonomis. (a) (b) Gambar 2. Persiapan seksi praktek mengemudi menggunakan DSFL. (a). Para peserta training sedang mengamati kendaraan yang akan digunakan untuk praktek lapangan, (b). Presiden Ford Motor Indonesia melakukan persiapan uji kendaraan tanpa menggunakan rem ABS. Sesi lapangan baru dimulai pada pukul 13.30 WIB dan berakhir pada pukul 18.00 WIB. Dalam sesi lapangan ini, seluruh peserta wajib mempraktekkan teori yang baru saja didapat dengan menggunakan dua sistem pengereman yaitu ABS & non-ABS dan mempraktekkan teknik slalom low speed & slalom medium speed dengan pengutamaan pada teknik mengemudi dan memperhatikan patokan bagian kendaraan saat akan melakukan manuver.Secara teknis, training ini terbilang sukses. Tidak hanya untuk sesi teori dan sesi lapangan namun juga persiapan panitia di Wisma Pondok Indah tempat berkumpulnya peserta, jadwal training dan transfer ilmu yang didapatkan oleh peserta khususnya wakil dari Yayasan Pijar Cendikiawan (YPC). Bagi wakil dari YPC, warkshop ini sangat menarik karena selain memperhatikan sisi keselamatan mengemudi, training ini juga memperhatikan sisi konservasi energi khususnya dalam teknik mengemudi mobil. Lima tips yang berhubungan dengan konservasi energi dalam berkendara adalah (i). Penggunaan low engine speed, (ii). Penggunaan momen kendaraan dalam memperoleh energi, (iii). mematikan mesin saat tidak produktif, (iv). Tekanan ban yang sesuai, (v). Dampak beban terhadap bahan bakar. 1. Penggunaan low engine speed (rpm) Teknologi kendaraan bermotor saat ini sudah dapat dikemudikan secara stabil pada putaran yang rendah (rpm rendah) dimana hal ini merupakan pertimbangan dari peningkatan usia mesin kendaraan bermotor. Pada putaran rendah ini, konsumsi bahan bakar dan emisi akan berkurang sehingga dapat menimbulkan dampak yang positif bagi lingkungan sekitar. Gambar di bawah ini memberikan ilustrasi penggunaan rpm yang ekonomis. Sementara gambar sebelahnya memberikan ilustrasi penghematan bahan bakar jika menggunakan roda gigi yang tinggi.  (a) (b) Gambar 3. (a). Kondisi rmp yang ekonomis, (b). Ilustrasi penghematan bahan bakar dengan menggunakan high gear. Dengan menggunakan gigi kendaraan yang tinggi maka penghematan bahan bakar yang dapat dilakukan sebesar 25 – 35 %. 2. Penggunaan momen kendaraan Momen kendaraan yang dimaksud adalah pemanfaatan momen kendaraan saat akan bergerak atau berhenti dan saat jalan menurun. Pemindahan high gear secara cepat & tepat dengan memanfaatkan pergerakan kendaraan menyebabkan kendaraan tidak akan kehilangan energi saat akan melakukan akselerasi. 3. Mematikan mesin saat tidak produktif Jika kendaraan dalam kondisi yang baik, sangat dianjurkan mematikan mesin kendaraan dalam kondisi antara lain (i). Melakukan bongkar muat barang, (ii). Kemacetan lalu lintas, (iii). Pintu lintasan kereta api, dan (iv). Lampu merah. Ilustrasi penghematan dengan mematikan mesin kendaraan adalah tiga menit mesin kendaraan hidup sama dengan menempuh jarak 1 km dengan kecepatan konstan 50 km/jam. 4. Tekanan ban yang sesuai Penggunaan tekanan ban yang tidak sesuai dapat menyebabkan pemborosan bahan bakar dan mengurangi keamanan dalam berkendara. Tekanan ban yang tepat dapat dilihat dari stiker tekanan ban yang terdapat di setiap kendaraan dan pengukuran sebaiknya dilakukan saat ban dalam keadaan dingin. Hal ini sangat berdampak terhadap efisiensi bahan bakar dimana dengan penggunaan tekanan ban yang sesuai dengan petunjuk dapat meningkatkan efisiensi sebesar 1% - 3%. 5. Dampak beban terhadap bahan bakar Penggunaan bagasi di atas kendaraan dapat menyebabkan tidak efisiensinya bahan bakar. Peningkatan beban dari standar yang telah ditentukan akan berdampak pada peningkatan konsumsi bahan bakar 1% setiap penambahan beban 20 kg. Jika dalam keadaan darurat, harus membawa beban yang berat, maka disarankan agar membawa kendaraan dengan kecepatan yang rendah. Beberapa tips ini diharapkan dapat memberikan peran dalam mengantisipasi peningkatan penggunaan bahan bakar minyak dalam sector transportasi yang pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 40% (EIA, 2005). Daftar pustaka § Driving skills for life, 2009. Ford Motor Indonesia. |