Home arrow Berita Lain arrow Hemat Energi Itu Untuk Anda Juga
Selamat Datang! di situs resmi Yayasan Pijar Cendikiawan, sebuah yayasan yang konsen di bidang Energi Terbarukan (Renewable Energy)
 
Hemat Energi Itu Untuk Anda Juga E-mail
Ditulis oleh: Administrator   
Wednesday, 28 April 2010

Manusia dari zaman purbakala, sebagai makhluk hidup, untuk memenuhi segala kebutuhannya pastinya membutuhkan energi. Dimulai dari asupan air, makanan hasil bumi, sampai ngemil pun sebenarnya adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa diabaikan agar kehidupan mereka bisa berlangsung terus.

Kebutuhan akan energi bukan kebutuhan manusia zaman batu saja, manusia zaman modern pun tidak kalah butuhnya. Alih-alih berkurang, manusia modern justru membutuhkan lebih banyak energi dalam berbagai macam bentuknya. Semasa eyang dan kakung kita masih hidup, kebutuhan akan energi listrik mungkin hanya untuk mendengarkan radio yang memakai elemen kering, dan sebagainya, yang sebatas hanya kebutuhan yang kecil-kecil saja. Namun, kita bsia melihat perbedaanya di zaman sekarang. Tatkala pergaulan dunia global semakin luas, dibutuhkan segala sarana dan prasarana yang bisa menunjang kelancaran pergaulan antar personal, lembaga, institusi dan negara di seluruh dunia. Tak heran, kita sekarang butuh internet, komputer, faks, telepon untuk memudahkan komunikasi dan agar arus pertukaran informasi bisa berlangsung dengan cepat dan mudah.

Ditambah lagi mobilitas perorangan pun dituntut serba cepat, sehingga kebutuhan akan kendaraan bermotor yang membutuhkan bahan bakar fosil meningkat pesat. Tak kurang hebohnya, populasi penduduk dunia, seperti yang dituturkan oleh Mantan Sekjen PBB Kofi Annan tahun 2005, yang menyentuh angka tujuh miliar di tahun 2012 dan akan stabil di angka sembilan miliar di tahun 2050, tentunya menuntut ketersediaan pasokan bahan makanan yang cukup. Padahal Badan Pangan Internasional (FAO) melaporkan sebuah berita buruk bahwa saat ini stok bahan pangan di pasar dunia mencapai level terendah  sejak tahun 1980 dan mengalami penurunan sebanyak lima persen dibanding tahun lalu. Bahkan diperkirakan pada akhir tahun ini akan turun menjadi 405 juta ton.

            Di Indonesia saja, menurut Kepala Pusat Energi Nuklir Batan, Arnold Y. Sutrisnanto, pertumbuhan populasi kita diatas satu persen dan pertumbuhan ekonomi lima sampai enam persen. Dengan tingginya pertumbuhan pupulasi dan ekonomi seperti ini, tentunya Indonesia membutuhkan suplai enrgi yang tidak sedikit. Beliau telah memperkirakan bahwa kebutuhan energi listrik tahun 2000 kemarin mencapai 29 Gigawatt dan akan meningkat 100 Gigawatt pada tahun 2025. Apalagi kegiatan pembangunan di Indonesia lebih mengarah pada industrialisasi, sehingga energi menjadi sebuah topik yang selalu hangat untuk dibicarakan. Tak heran, jika pertumbuhan konsumsi energi listrik sebesar 15% per tahun yang setara dengan tingkat pertumbuhan energi secara total sebesar 8% pada kurun waktu 1965 – 1980, jauh diatas tingkat pertumbuhan energi di negara industri yang hanya sebesar 3%.

            Nah, sudah jelas jika kebutuhan akan energi yang masih terus meningkat, sedangkan energi yang kita butuhkan lebih banyak berasal dari sumber daya alam yang tak terbarukan, dan jika kita tidak bisa bijak dalam penggunaan energi, apa gerangan yang akan terjadi di masa mendatang sudah bisa ditebak. Tak salah jika pemerintah saat ini sedang getol-getolnya mengkampanyekan penghematan energi. Salah satunya program hemat listrik yang sudah mulai dicanangkan bulan April lalu.

            Penghematan energi, taruhlah energi listrik misalnya, bukan sesuatu yang merugikan, jika kita memandangnya dengan bijak. Dengan memulainya pada hal yang paling ringan, misalnya dengan mematikan aliran listrik pada peralatan yang tidak sedang digunakan atau dengan ikut berpartisipasi dalam program pengurangan pemakaian listrik pada beban puncak (18.00 – 22.00), setidaknya akan menghemat pengeluaran Anda untuk tagihan listrik tiap bulannya. Anda pun mengalihkan budget bulanan itu untuk sesuatu yang lebih Anda butuhkan, misalnya untuk tabungan pendidikan putra-putri Anda.

            Lain lagi jika Anda melengkapi usaha tersebut dengan mengganti lampu pijar Anda dengan lampu hemat energi. Penerangan lampu dapat menimbulkan panas yang berlebihan pada suatu ruangan. Lampu tipe compact fluorescent (CFL) atau biasa disebut Lampu Hemat Energi (LHE) hanya mengkonsumsi 75% energi dan menimbulkan 70-80% lebih sedikit panas. Lampu compact fluorescent memberikan 90% cahaya dan 10% panas sedangkan lampu pijar biasa memberikan 10% penerangan dan 90% panas. Langkah penghematan energi dengan cara mengganti lampu pijar berdaya besar dengan lampu hemat energi (LHE) dengan luminasi cahaya sama terang dapat menghemat pemakaian daya (kWh)) 50-70% lebih rendah. Direktur Operasi PT PLN, Tunggono pernah menjelaskan bahwa jika 20 juta lampu saja memakai lampu hemat energi, maka akan ada penghematan konsumsi listrik sebesar 640 MW pada saat beban puncak. Sedangkan untuk 50 juta lampu bisa mengurangi pemakaian listrik hingga 2,3 miliar kilo watt hour (KWH) per tahun. Hal ini memang sangat perlu diperhatikan karena menurut Direktur Utama PT PLN Edie Widiono menyatakan pemborosan penggunaan lampu pijar mencapai 4 tera watt hour per tahun. Dengan asumsi 35 juta pelangan PLN masih menggunakan lampu pijar yang boros energi. Karena itulah, selain membagikan lampu hemat energi gratis untuk masyarakat, PLN berencana menerapkan kebijakan baru berupa insentif (diskon) dan disinsentif (denda) agar pelanggan bisa lebih berhemat. Insentif, diberikan ke pelanggan yang bisa berhemat lebih dari 20% dari rata-rata nasional pemakaian listrik per bulan. Sedangkan disinsentif, diberikan ke pelanggan yang tidak berhemat, yaitu pemakaian listrik lebih besar dari 80% dari rata-rata nasional pemakaian listrik per bulan.

            Kata berhemat disini tidaklah demi kepentingan finansial saja, karena karena bisa jadi orang-orang yang berkantong tebal dianggap tak perlu dong hidup hemat. Memang dengan berhemat pemerintah kita tidak akan dipusingkan dengan subsidi yang harus disediakan yang membengkak seiring melonjaknya harga minyak di pasaran dunia. Namun, bukan hal itu saja. Selain karena ketersediaan sumber energi tak terbarukan di Indonesia dan dunia semakin menipis setelah dihisap terus menerus sampai saat ini, juga diklaim bahwa pemanasan global saat ini juga disponsori perilaku boros para penikmat energi yang memakainya secara boros dan kurang bijak. Kok bisa?

            Svante Arrhenius, seorang peneliti dari Swedia telah meramalkan terjadinya peningkatan suhu bumi apabila terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Kenyataannya, Gas Rumah Kaca (GRK) karbon dioksida di atmosfer meningkat konsentrasinya terutama karena penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan tata-guna lahan. Dalam rentang 1990 hingga 2000-2005 telah terjadi peningkatan emisi sebesar hampir 3 Giga Ton (1012 Kg) CO2 per tahun dari penggunaan bahan bakar  fosil saja. Sehingga mengakibatkan peningkatan suhu rata-rata 0,76°C (0,57°C hingga 0,95°C). Memang sih kelihatannya tidak terlalu besar, namun dampak yang diakibatkannya telah kita rasakan semua. Memanasnya sebagian besar muka bumi, peningkatan terjadinya angin ribut, dan pergantian musim yang berubah adalah beberapa diantaranya yang pada akhirnya akan berdampak besar bagi kesejahteraan dan perekonomian dunia. Padahal, hampir 40 persen emisi karbon dihasilkan oleh sektor ketenagalistrikan. Dengan begini semakin besar konsumsi listrik semakin besar pula emisi karbon yang dihasilkan dari pembangkit listrik. Ini dikarenakan 60% pembangkit listrik menggunakan bahan bakar berupa sumber daya alam yang tak terbarukan tadi. Ujung-ujungnya sudah jelas, pembakaran bahan bakar fosil tadi mengakibatkan meningkatnya Gas Rumah Kaca yang dihasilkan, sehingga pemanasan global tidak bisa dihindarkan. Dengan demikian sudah tentu kita tahu apa yang harus dilakukan. Sedikit banyak dengan ikut serta dalam program penghematan energi, kita termasuk orang yang berperan aktif dalam melestarikan dan menjaga lingkungan hidup kita. Karena kalau kita hanya berani menyalahkan negara-negara industri yang menghasilkan emisi karbon yang besar, percuma dong, jika perilaku kita termasuk perilaku yang kurang bijak dalam penggunaan energi. Menurut penelitian jika saja kita mematikan monitor komputer kita selama jam makan siang, jika dilakukan oleh 20 orang selama seminggu, akan menghindari emisi sebesar 1 Kg CO2e.

 

Sumber    :  http://www.tirtapena.asia

New layer...

 

 

 

 
< Prev   Next >

Statistik

Visitors: 151803


© 2010 Yayasan Pijar Cendikiawan.
Hosted By VIPNET Lampung