|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Monday, 22 June 2009 |
|
Kurangnya pelayanan energi dipedesaan negara berkembang menimbulkan dampak yang serius pada masalah kesehatan dan lingkungan. Sebagian besar masalah ini terjadi pada masyarakat pedesaan yang menggunakan bahan bakar tradisional, penggunaan teknologi sederhana tanpa memperhatikan efisiensi energi dan emisi pemanasan. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Tuesday, 16 June 2009 |
Kebijakan pemerintah sebagai kunci promosi pemanfaatan sumber energi terbarukan
Latar belakang Dalam sepuluh tahun terakhir ini, fokus kebijakan energi dunia diarahkan pada masalah lingkungan dan pengembangan yang berkelanjutan dimana tujuannya adalah menghambat laju pemanasan global, mendorong investasi di bidang industri baru atau ketersediaan energi yang mandiri dan terciptanya ketahanan energi. Ini semua merupakan hasil penjabaran dari kesepakatan Kyoto protocol dan juga agenda-agenda international mengenai perubahan iklim dimana berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan di USA bahwa akan terjadi peningkatan temperature global sekitar 1.40 C – 5.80C selama abad 21 dan permukaan laut akan naik sekitar 8 cm – 99 cm (1).
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Tuesday, 09 June 2009 |
Skema pengembangan yang berkelanjutan saat ini telah menjadi isu yang sangat menarik untuk didiskusikan. Pengertian pengembangan yang berkelanjutan ini dapat diartikan dalam sudut pandang yang berbeda-beda. Jika kita mengikuti pandangan Bruntland Report (1987), penggunaan pengembangan yang berkelanjutan memiliki arti pengembangan yang melihat kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan kebutuhan generasi yang akan dating. Upaya untuk memenuhi criteria keberlanjutan yang lebih spesifik dan indicator yang sesuai dengan lingkungan yang spesifik, maka harus mempertimbangkan unsure-unsur penunjang yang terdapat di wilayah local, nasional dan kebijakan dunia dengan cara memperhatikan konsekuensinya untuk jangka panjang. Terkait dengan pengembangan energi yang berkelanjutan, skema penggunaan pembangkit mini untuk mengadaan energi listrik sudah dilakukan di negara-negara industri dan negara maju (1)
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Tuesday, 02 June 2009 |
Latar belakang Indonesia yang merupakan negara anggota Asian Development Bank (ADB) menjadi tuan rumah pertemuan tahunan ADB yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, awal Mei 2009. Pertemuan ini dihadiri oleh 67 negara anggata ADB dengan dua isu utama yang telah mengancam kawasan Asia-Pasifik yaitu isu krisis keuangan dan pemanasan global(1). Kedua krisis ini terjadi disebabkan oleh satu penyebab utama yaitu tata ekonomi global high carbon economy(2). High carbon economy merupakan suatu tatanan ekonomi yang memanfaatkan sumber energi fosil sebagai penyedia energi utama untuk kegiatan di dunia yang pemanfaatannya terus meningkat sejak perang dunia kedua. Hal ini terjadi karena sifat energi fosil khususnya minyak bumi yang mudah dikemas dan dipindahkan serta proses konversi yang sudah dikuasai dan energi yang dihasilkan relative stabil.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Tuesday, 26 May 2009 |
|
Konsumsi pemakaian listrik Indonesia terus meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Peningkatan kebutuhan listrik yang mencapai angka rata-rata 6.87% per tahun(1) hingga tahun 2020 harus disikapi dengan berbagai langkah inovatif di sector penghasil energi maupun industri manufaktur peralatan listrik. Jumlah ini akan semakin meningkat jika visi PLN 75/100 yang artinya 100% kebutuhan listrik di Indonesia terpenuhi pada ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 75 pada tahun 2020 terealisasi. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh: Barony Herdiarto
|
|
Thursday, 21 May 2009 |
|
Pada bulan Desember 2008 Presiden RI secara resmi menyatakan tahun 2009 sebagai tahun Indonesia kreatif yang mengusung pelaksanaan cetak biru dari pengembangan industri kreatif atau ekonomi kreatif 2009 – 2025. Istilah industri kreatif ini belum terdefinisi dengan jelas namun pada dasarnya, pengembangan industri kreatif merupakan suatu bentuk kreatifitas dan inovasi dalam menghasilkan produk atau jasa dengan menggunakan kandungan nilai kreatif. Jika dijabarkan secara lebih luas maka industri kreatif adalah sistem kegiatan sekelompok manusia atau individu yang berkaitan dengan kreasi, produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa yang memiliki nilai kultural, artistic, estetika, intelektual dan emosional bagi pelanggan di pasar (1). |
|
Selengkapnya...
|
|
|
|